Jakarta Menghadapi Ancaman Banjir Ekstrem

Penduduk Ibukota Jakarta akan terkena dampak resiko dari banjir ekstrim, khususnya di wilayah Pesisir Ibukota Jakarta. Secara total, lebih dari 2,5 juta orang yang tinggal dan bekerja di daerah pesisir terkena risiko banjir dari laut dan sungai. Peraturan Gubernur DKI Jakarta no. 121/2012 menyebutkan bahwa peluang banjir maksimum dari laut dipertimbangkan terjadi hanya sekali dalam 1.000 tahun, sementara dari sungai hanya terjadi sekali dalam 100 tahun.

Di beberapa tempat, tingkat keamanan saat ini dihitung hanya sekali dalam 1 hingga 10 tahun yang menghasilkan limpasan air yang melampaui tanggul laut dan sungai pada saat tingginya debit dan gelombang air laut. Pada tahun 2018, besar nilai perkiraan kerusakan tahunan di daerah pesisir adalah sejumlah 150 juta, dimana jumlah tersebut jauh dari nilai perkiraan yaitu sebesar 1.000 juta selama 10 tahun ke depan. Risiko banjir terbukti dengan adanya peristiwa banjir besar yang melanda Jakarta dalam beberapa dekade terakhir: 1996, 2002, 2007, 2013, 2014 dan 2017.

Banjir menyebabkan hilangnya material dan kehidupan, kerusakan infrastruktur penting, dan gangguan kegiatan ekonomi & lalu lintas. Peristiwa yang baru saja terjadi yaitu pada tanggal 5  Desember 2017, di mana tanggul-tanggul pantai runtuh pada saat pasang surut purnama. Kondisi tersebut merupakan indikasi dari situasi buruk merupakah salah satu bukti bahwa ketinggian tanggul dipengaruhi oleh penurunan muka tanah.

Diharapkan NCICD dapat melindungi Jakarta dari dua jenis risiko banjir. Jenis pertama risiko banjir berasal dari laut ketika tanggul laut dan tanggul sungai yang mulai tenggelam (karena penurunan muka tanah) tidak lagi tinggi atau cukup kuat untuk melindungi tingginya muka air yang disebabkan oleh gelombang ekstrim dan angin kencang selama musim hujan. Jenis banjir kedua disebabkan oleh curah hujan dihulu dan perkotaan, yang mengakibatkan debit sungai puncak dan limpasan tanggul sungai dan banjir polder perkotaan. Kombinasi antara debit tinggi dan debit sungai yang tinggi meningkatkan risiko banjir. Setiap tahun, risiko kerusakan dan resiko banjir terus meningkat karena penurunan dari muka tanah.

Penurunan tanah adalah penyebab utama meningkatnya risiko banjir. Sebuah penelitian ilmiah menyatakan bahwa rata-rata penurunan muka tanah di daerah pesisir di sekitar pluit saat ini hingga 18 cm per tahun, 13 cm per tahun di barat dan 7,5 cm per tahun di bagian timur zona pesisir. Pada 2040-2050, bagian terbesar dari daerah pantai diperkirakan tenggelam hingga di bawah permukaan laut, yang oleh karena itu membutuhkan tanggul pantai yang tinggi, tanggul laut, tanggul sungai, jaringan drainase yang besar dan sistem pemompaan. Kondisi sistem sungai perkotaan saat ini juga semakin buruk dengan tingkat muka tanah yang semakin menurun, sehingga semakin sulit bagi sungai-sungai utama untuk mengalirkan air langsung ke laut. Pada akhirnya, penutupan Teluk Jakarta dengan “tanggul laut luar” sangat dibutuhkan, yang kemudian diiringi pembangunan polder besar di Jakarta Utara dengan stasiun pompa yang mengalirkan air sungai ke laut.

Salah satu penyebab utama penurunan tanah adalah ekstraksi air tanah yang berlebihan, di samping gerakan tektonik, konsolidasi tanah dan pemadatan alami. Dari seluruh penyebab turunnya muka tanah, ekstraksi air tanah adalah satu-satunya penyebab yang dapat dikendalikan. Namun, DKI Jakarta berusaha untuk menyediakan air bersih kepada para penggunanya. Hanya dari sebagian kawasan kota yaitu sekitar 60% dari pengguna yang dilayani dengan air perpipaan. Hal ini menyebabkan banyak terjadi pemasangan pompa air tanah legal dan ilegal. Sekitar 2 m3/detik ekstraksi air tanah dalam dilakukan terutama dari kawasan komersial dan industri. Ekstraksi air tanah ini perlu digantikan dengan penyediaan air alternatif (perpipaan).

Oleh karena itu, DKI Jakarta merencanakan akan memenuhi kebutuhan air perpipaan ke wilayah Jakarta Utara pada tahun 2030. Hal ini merupakan suatu tantangan besar karena rumitnya pengaturan kota dan persyaratan pendanaan. Sumber-sumber penyediaan air baku sekitar 7m3/detik sebelum tahun 2030 sangat penting karena pendistribusian air saat ini belum dapat diarahkan ke pengguna untuk menyediakan air sebagai alternatif dari air tanah. Kemudian telah dilakukan studi lebih lanjut mengenai Water reuse, pengurangan non-revenue-water dan daur ulang air yang dikombinasikan dengan pengolahan dan penyediaan air (desalinasi) yang dilakukan untuk mengurangi ekstraksi air tanah dengan menyediakan air di lokasi.