Sudah 4 Tahun Tak Ada Banjir di Wilayah Muara Baru

Kompas.com – 02/10/2019, 20:45 WIB
Penulis : Dani Prabowo
Editor : Hilda B Alexander

 

Rembesan air laut di sekitar Tanggul Muara Baru, Rabu (2/10/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com – “Airnya rembes itu mas. Air dari laut itu yang masuk lewat tanggul,” ucap Warni (54), warga Penjaringan, Jakarta Utara, saat ditemui Kompas.com, Rabu (2/10/2019). Di sebuah bangunan semi permanen berukuran sekitar 2,5 x 1,5 meter, Warni membuka usaha warung makan sederhananya. Tepatnya, di seberang Stasiun Pompa Waduk Pluit Timur yang berada di Jalan Pantai Mutiara, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

Hampir setiap hari ia mendapati pemandangan tersebut. Baginya, kondisi seperti itu masih terbilang wajar dibandingkan dengan banjir rob yang kerap terjadi beberapa tahun silam.

Rembesan air laut yang masuk dari Tanggul Laut Muara Baru di sekitar warung makan milik Warni, Rabu (2/10/2019).

Tahun 2007 mungkin menjadi salah satu periode yang tak dapat ia lupakan sejak pindah dari Tegal 34 tahun silam. Saat itu, seluruh dagangannya habis disapu banjir rob. Meski harus merasakan penderitaan, ia tetap ‘bersyukur’

“Untungnya siang kejadiannya. Saya lupa pastinya berapa lama, kalau enggak salah sampai seminggu deh banjirnya,” kata Warni.

Perubahan iklim yang signifikan telah mengakibatkan tinggi permukaan air laut mengalami peningkatan. Tak terkecuali di wilayah utara Teluk Jakarta. Kondisi ini diperparah dengan masifnya pembangunan gedung bertingkat serta pengambilan air tanah yang tidak terkontrol. Akibatnya, permukaan tanah pun terus mengalami penurunan (land subsidence).

Riset yang dilakukan tim peneliti geodesi Institut Teknologi Bandung yang dilansir BBC mengungkapkan, tak kurang dari 2,5 meter permukaan tanah di wilayah Jakarta Utara mengalami penurunan dalam kurun 10 tahun terakhir. Artinya, setiap tahun wilayah ini mengalami penurunan hampir 25 sentimeter.

Simang

Oleh karena itu, tak berlebihan bila Simang (54), warga Muara Baru yang tinggal tak jauh dari lokasi Tanggul Muara Baru menyebut pada saat banjir rob terjadi, ketinggian hampir mencapai lantai dua rumah warga pada saat itu. “Dulu kalau enggak salah 2007-2008 itu tanggul sempat jebol. Ada empat titik, jalanan semua terendam,” ucap pria yang pindah dari Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan ke wilayah tersebut 40 tahun silam

Hal senada diamini Nur. Warga asli setempat itu bahkan terpaksa harus mengungsi ke tempat lain hingga dua pekan lamanya karena rumah tempat tinggalnya terendam banjir. “Orang-orang bahkan harus sampai naik le atas kapal tongkang untuk menyelamatkan diri. Asalkan ada permukaan yang cukup buat bangun tenda, tidur,” ujarnya.

Proyek Tanggul Laut di wilayah Kali Baru, Jakarta Utara.

Kondisi berbeda dirasakan warga Kali Baru, Jakarta Utara. Sapari (79) yang telah menetap di wilayah ini sejak 1967 mengaku, banjir rob memang kerap terjadi setiap tahunnya. Tapi, utamanya pada medio sebelum 2015. Ketika banjir, ketinggian permukaan air dapat mencapai tiga meter. Namun, kondisi seperti itu tidak berlangsung lama. “1-2 jam surut, karena itu air dari laut kan bukan karena ujan. Tapi ujan seharian pun juga enggak banjir karena cepet kebuang ke laut,” ungkapnya. Sejak 2015, di wilayah tempat Sapari tinggal dibangun proyek Tanggul Pengaman Pantai. Dari total panjang 3,71 kilometer tanggul pantai yang akan dibangun, saat ini yang telah terealisasi baru mencapai 2,2 kilometer.

Sapari

 

Adapun proyek yang bernama Tanggul Pengaman Pantai Tahap 3 Fase 2 ini merupakan bagian dari megaproyek Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN/ NCICD) sepanjang 20,1 kilometer. Terbentang dari Muara Kamal di sisi barat hingga Kali Blencong Sisi Barat di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) di sisi timur. Dari total panjang tersebut, saat ini yang telah terbangun baru mencapai 8,9 kilometer. Pembangunan megaproyek PTPIN/NCICD dilakukan oleh tiga pihak yaitu Kementerian PUPR, Pemprov DKI Jakkarta, dan swasta. Khusus untuk Kementerian PUPR, lokasi pekerjaan meliputi kawasan PPI Kamal Muara (pantai), Muara Baru dan Kali Baru sepanjang 4,64 kilometer. Saat ini yang telah terealisasikan pembangunannya mencapai 4,5 kilometer.

Sementara untuk proyek yang dikerjakan Pemprov DKI meliputi kawasa PPI Kamal Muara (sungai), Pelabuhan Muara Angke, Pelabuhan Sunda Kelapa (sisi timur), dan Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman sepanjang 6,9 kilometer. Adapun yang telah terealisasikan sudah mencapai 4,4 kilometer. Sedangkan yang menjadi porsi swasta sepanjang 9,9 kilometer, meliputi kawasan Pantai Mutiara, Kali Blencong Barat, dan Pantai Ancol. Hingga kini belum ada satu pun pembangunan yang dilakukan oleh swasta lantaran masih terganjal aturan hukum yaitu belum adanya aturan yang menugaskan pengembang membangun tanggul.

Iwan

Iwan (42), warga Muara Baru yang turut merasakan dampak pembangunan tanggul pantai ini mengaku, sudah beberapa tahun terakhir wilayah tempat tinggalnya tak lagi terkena musibah banjir. Kalau pun ada rembesan air laut yang masuk melalui Tanggul Muara Baru, hal itu tidak terlalu parah. “Sudah empat tahun terakhir ini kayaknya enggak pernah banjir (tinggi). Kalau pun banjir, ada tapi enggak tinggi ya,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Nur. Meski rob masih kerap terjadi namun kondisinya tidak separah empat tahun lalu. Menurut dia, saat ini rob yang terjadi hanya sebatas genangan setinggi lutut orang dewasa saja.

Tanggul laut di Kali Baru, Jakarta Utara.

Sementara itu, Emi (35), warga Muara Baru, berharap agar pemerintah dapat memperbaiki rembesan yang ada di sejumlah lokasi tanggul. Selain itu, ia meminta, agar pemerintah dapat membenahi kawasan yang ada, sehingga warga yang tinggal di sekitar wilayah tersebut dapat lebih merasa nyaman. “Sebenarnya yang rembes itu sudah dicor kemarin, tapi masih sempat ada yang bolong-bolong. Mudah-mudahan bisa diperbaiki lagi,” tuntas Emi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Sudah 4 Tahun Tak Ada Banjir di Wilayah Muara Baru”, https://properti.kompas.com/read/2019/10/02/204528221/sudah-4-tahun-tak-ada-banjir-di-wilayah-muara-baru?page=all#page2.